Anak Kita Butuh Tanah Lapang, Sebuah Renungan untuk Kita Wujudkan Bersama
Oleh: CAK TOP ( Dakwah Marketable)
Majelis Rakyat Kecil -- Anak kota tak punya tanah lapang, sepak bola menjadi barang yang mahal...
Sepenggal syair Iwan Fals ini seakan menggambarkan kondisi anak-anak kita hari ini. Mari kita lihat lebih dekat di lingkungan kita.
Sore itu, ba’da ashar, sekelompok anak berkumpul. Pertanyaannya sederhana: “Main bola di mana sekarang?” Ada yang menjawab, “Di RT 19 depan rumahnya Mas Raya.” Anak lain menyahut, “Kami lebih suka di RT 17 depan rumah Pak Abdi.” Kadang mereka pindah ke RT 16 depan rumah Pak Syamsul, bahkan sampai halaman Masjid An-Nur. Begitulah keseharian mereka, bermain bola berpindah-pindah tempat tanpa lapangan tetap.
Mereka terpaksa bermain di jalan paving yang kasar, dengan gawang darurat dari “bak sampah” di depan rumah. Bahkan teras masjid pun pernah dipakai sebagai pengganti lapangan bola. Semua ini menunjukkan betapa mendesaknya kebutuhan akan ruang bermain yang layak.
Padahal dulu, kita masih punya lahan lapang di depan ruko—yang kini sudah berubah jadi perumahan blok AA. Dulu anak-anak bisa bermain bola leluasa di wilayah RW 09—yang kini sudah berdiri rumah blok E dan Masjid Ar-Rokib. Tanah lapang demi tanah lapang perlahan menghilang.
Di sisi lain, kita juga menghadapi kegelisahan bersama: anak-anak kita semakin sulit lepas dari gadget. Mereka lebih betah menatap layar HP daripada berlari di bawah matahari. Tak jarang masalah muncul di rumah karena anak-anak kita “kecanduan HP”.
Apa yang harus kita lakukan? Jawabannya jelas: kita harus menyediakan lahan bermain. Kita harus membangun lapangan sepak bola atau lapangan futsal terbuka. Dengan adanya sarana ini, banyak persoalan bisa terjawab:
1. Mengurangi kekhawatiran anak-anak kecanduan gadget.
2. Memberikan kenyamanan warga, karena jalan tidak lagi dipakai untuk main bola.
3. Menciptakan lingkungan yang sehat dan interaksi sosial yang positif bagi anak-anak.
4. Menyalurkan bakat, bahkan mungkin melahirkan prestasi di bidang olahraga.
Lalu, di mana tempat yang paling mungkin? Pilihan kita memang terbatas, karena sebagian besar fasum-fasos perumahan berada di sudut yang kurang strategis. Maka penulis mengusulkan: sarana lapangan terbuka RW 08 dibangun di Blok A, tepat di perbatasan RT 17 dan 18. Lahan itu bisa dioptimalkan dengan menggabungkan jalan, taman toga yang sudah tak terawat, dan area sungai kecil. InsyaAllah, lahan itu bisa disulap menjadi lapangan futsal terbuka.
Dengan demikian, akan ada keseimbangan pembangunan fasum RW 08: Balai RW berdiri di Blok B, dan sarana olahraga hadir di Blok A. Ini bukan sekadar gagasan, tetapi wujud tanggung jawab kita demi perkembangan mental, fisik, dan sosial anak-anak kita.

Kedepannya semoga dengan punya lapangan bola untuk bocil bocil ini akan melahirkan pesepakbola yang level dunia 😊."
Optimis ....