BREAKING NEWS

Bukan Khilafiyah Penyebab Perpecahan Umat,

Oleh:  Muhammad Taufik

Menganti, MAJELIS RAKYAT KECIL— Selama ini, perbedaan pendapat atau khilafiyah sering dituding sebagai biang keladi perpecahan umat Islam. Padahal, kalau kita jujur menelusuri akar persoalan, perpecahan itu bukan lahir dari perbedaan pandangan, melainkan dari sikap kita dalam menyikapi perbedaan itu sendiri.

Khilafiyah hanyalah warna-warni kehidupan beragama — dan yang menentukan apakah warna itu tampak indah atau kusam adalah hati yang mewarnainya.

Perpecahan umat justru sering muncul bukan karena isi perbedaan, tetapi karena sempitnya isi hati. Ada beberapa sebab utama yang kerap menjadi sumber retaknya ukhuwah di tengah umat.

1. Ego Pribadi atau Kelompok

Ketika seseorang merasa paling benar, paling murni, dan paling layak diikuti, maka tembok pemisah mulai terbentuk. Ego menutup mata dari hikmah di balik perbedaan.

Padahal para ulama terdahulu berbeda pendapat tanpa saling meniadakan. Mereka berdebat dengan ilmu, bukan emosi; dengan adab, bukan amarah.

Sayangnya, kini yang sering terjadi justru sebaliknya — berbeda sedikit, langsung menjauh, bahkan menuding sesat.

Ilmu yang sejati mestinya melahirkan rendah hati, bukan tinggi hati.

2. Iri dan Dengki

Iri terhadap popularitas, pengaruh, atau banyaknya pengikut kelompok lain sering menjadi bara kecil yang diam-diam membakar ukhuwah.

Iri membuat hati panas dan lidah mudah menebar fitnah.

Rasulullah ï·º telah memperingatkan:

“Janganlah kalian saling hasad, saling membenci, dan saling membelakangi…”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Iri membuat seseorang sibuk menatap keberhasilan orang lain, hingga lupa memperbaiki dirinya sendiri.

Padahal, keberkahan bukan terletak pada siapa yang paling banyak pengikutnya, tetapi pada siapa yang paling tulus niatnya.

3. Kurangnya Ilmu dan Pemahaman

Banyak perpecahan muncul karena umat tidak memahami perbedaan antara ushul (pokok agama) dan furu’ (cabang agama).

Akibatnya, hal-hal kecil seperti cara sedekap, bacaan qunut, atau jumlah rakaat tarawih dibesar-besarkan seolah menyentuh ranah akidah.

Para imam besar — Imam Syafi’i, Malik, Abu Hanifah, dan Ahmad bin Hanbal — saling berbeda dalam hal itu, namun mereka tetap saling menghormati dan tidak pernah memutus silaturahmi.


Ironisnya, sebagian umat di zaman sekarang justru berpecah karena hal-hal kecil seperti itu, sementara persoalan besar seperti kejujuran, keadilan, dan kepedulian sosial sering terabaikan.

4. “Dolene Kurang Adoh” — Mainnya Kurang Jauh

Ungkapan Jawa ini menggambarkan seseorang yang hanya hidup di lingkaran kecil: bergaul dengan yang sependapat, mendengar yang seirama, dan menolak bersentuhan dengan yang berbeda.


Akibatnya, wawasan menjadi sempit, hati mudah curiga, dan sikap terhadap perbedaan menjadi kaku.


Padahal Allah ï·» berfirman:

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”

(QS. Al-Hujurat: 13)


Di era digital sekarang, “mainnya kurang jauh” bukan lagi soal jarak fisik, tetapi soal wawasan dan keterbukaan.

Kita sering terkurung dalam gelembung informasi (echo chamber): hanya membaca yang sependapat, hanya mendengar yang menguatkan pandangan sendiri.

Maka tak heran jika sedikit perbedaan saja terasa mengancam.

Penutup: Melapangkan Hati, Menyatukan Umat

Sering kali umat terpecah bukan karena perbedaan isi, melainkan karena sempitnya isi hati.

Kita terbiasa hidup di lingkaran yang seragam — membaca yang searah, bergaul dengan yang sejalan — sehingga ketika bertemu yang berbeda, kita merasa asing dan terancam.

Padahal bisa jadi, di balik perbedaan itu Allah sedang menitipkan hikmah yang memperkaya iman dan menumbuhkan kedewasaan.

Maka, mari belajar menata hati sebelum menata perbedaan.

Karena umat tidak akan bersatu dengan menyamakan semua pendapat, melainkan dengan melapangkan semua hati.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar