Solusi Anak Ramai di Masjid: Meneladani Rasulullah dalam Mendidik dengan Kasih Sayang
![]() |
Kegiatan positif di masjid menjadi solusi atas keramaian anak-anak yang tak terarah. Dengan pendampingan orang tua, masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi juga ruang tumbuh yang penuh berkah
Menganti, 11 Oktober 2025, MAJELISRAKYATKECIL — Fenomena anak-anak bermain di masjid bukanlah hal baru. Namun, ketika aktivitas mereka melampaui batas hingga mengganggu kekhusyukan ibadah, maka perlu ada solusi yang bijak dan elegan. Masjid Annur Perum Green Menganti Gresik menjadi salah satu contoh nyata dari dinamika ini.
Di masjid tersebut, anak-anak datang berbondong-bondong, namun bukan untuk shalat, melainkan bermain kartu, kejar-kejaran, bahkan sepak bola di dalam area masjid. “Sangking ramainya anak-anak, jamaah yang sedang shalat terganggu. Bahkan ada yang enggan shalat maghrib karena suasana terlalu gaduh,” ujar salah satu jamaah saat ngopi santai di Serambi Masjid
Fenomena ini menimbulkan polemik. Sebagian jamaah merasa terganggu, sementara sebagian lainnya beranggapan bahwa kehadiran anak-anak di masjid adalah pertanda baik. Mereka meyakini bahwa lebih baik anak-anak ramai di masjid daripada tidak datang sama sekali.
Namun, bagaimana seharusnya kita menyikapi hal ini? Di sinilah keteladanan Rasulullah Muhammad SAW menjadi rujukan utama.
Teladan Rasulullah dalam Menangani Anak yang Membangkang
Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat lembut dan sabar dalam mendidik anak-anak. Beliau tidak pernah memukul, membentak, atau mengusir anak-anak dari masjid. Sebaliknya, beliau menjadikan masjid sebagai ruang belajar dan tumbuh bagi generasi muda.
Hadits Riwayat Bukhari
Dalam Sahih al-Bukhari no. 6038, Anas bin Malik berkata:
“ Aku pernah melayani Nabi ï·ºSelama sepuluh tahun. Tidak pernah sekalipun beliau berkata ‘Ah!’ kepadaku, tidak pernah berkata ‘Kenapa kamu lakukan ini?’ atau ‘Kenapa kamu tidak lakukan itu?’.”HR. Bukhari no. 6038
Hadits ini menunjukkan kesabaran luar biasa Rasulullah dalam menghadapi anak-anak, bahkan ketika mereka tidak patuh atau melakukan kesalahan.
Bermain di Masjid Bukan Dosa
Dalam riwayat lain, Hasan dan Husain pernah naik ke punggung Rasulullah saat beliau sedang sujud. Beliau memperlama sujudnya agar cucunya tidak terjatuh. Setelah selesai shalat, beliau menjelaskan bahwa beliau tidak ingin mengganggu permainan mereka.
“Rasulullah tidak marah atau mengusir anak-anak dari masjid, bahkan ketika mereka bermain saat beliau sedang shalat.” HR. Ahmad dan Nasai
Hadits Riwayat Abu Dawud
“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”
HR. Abu Dawud no. 4943
Rasulullah menekankan pentingnya kasih sayang dalam mendidik, termasuk kepada anak-anak yang aktif atau sulit diatur.
Solusi Elegan untuk Masjid Annur dan Janaah
1. Anak di Masjid
Sediakan area khusus anak-anak dengan aktivitas Islami seperti mewarnai, hafalan surat pendek, atau permainan edukatif.
2. Tim Pendamping Remaja Masjid
Libatkan remaja masjid sebagai pendamping anak-anak, bukan sebagai pengawas yang menakutkan, tapi sebagai kakak yang membimbing.
3. Poster Edukatif dan Pengumuman Ramah Anak
Buat pengumuman visual yang mengajak anak-anak menjaga ketenangan masjid, dengan ilustrasi dan bahasa yang mereka pahami.
4. Libatkan Orang Tua dan Tokoh Masyarakat
Adakan forum ringan untuk menyamakan persepsi antara pengurus masjid, orang tua, dan tokoh RW/RT.
5. Ganti Kartu dengan Permainan Islami
Buat versi Islami dari permainan kartu, seperti “Kartu Adab Masjid” atau “Kartu Hafalan Surat”, agar anak tetap bermain sambil belajar.
Masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi juga ruang pendidikan dan pembinaan generasi. Dengan meneladani Rasulullah SAW, kita bisa menjadikan masjid sebagai tempat yang ramah anak, tanpa kehilangan kekhusyukan ibadah.
Mari kita ubah polemik menjadi peluang. Anak-anak bukan gangguan, mereka adalah amanah dan harapan. Dengan pendekatan yang tepat, Masjid Annur bisa menjadi contoh masjid yang mendidik dengan cinta, bukan dengan amarah.
