BREAKING NEWS

Marsinah dalam Napas 10 November: Kepahlawanan yang Tak Pernah Padam

Marsinah sosok wanita yang membela hak hak buruh diangkat menjadi pahlawan Nasional 

Marsinah dan 10 November menyatu dalam satu napas: keberanian melawan penindasan demi martabat bangsa. Keduanya dikenang bukan karena kemenangan, tapi karena pengorbanan yang membangkitkan kesadaran kolektif.

Oleh: Mahrus Efendi 

Jakarta, 10 November 2025, MAJELIS RAKYAT KECIL— Di tengah peringatan 80 tahun Pertempuran Surabaya, satu nama baru bergema di Istana Negara: Marsinah. Buruh perempuan asal Nganjuk yang gugur dalam perjuangan hak pekerja pada 1993, kini resmi menyandang gelar Pahlawan Nasional. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam upacara kenegaraan yang sarat makna.

Marsinah bukan pejuang bersenjata. Ia tidak berada di medan perang seperti Bung Tomo atau Moestopo. Namun keberaniannya menolak intervensi militer dalam serikat pekerja, serta tuntutannya atas kenaikan upah minimum, menjadikannya simbol perlawanan sipil yang tak kalah heroik.

10 November 1945: Ketika Rakyat Menolak Tunduk

Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945 adalah titik balik sejarah Indonesia. Ribuan rakyat, pemuda, dan santri bangkit melawan pasukan Sekutu dan NICA yang ingin merebut kembali kemerdekaan. Bung Tomo, dengan pidato-pidatonya yang membakar semangat, menjadi ikon perlawanan. Kota Surabaya berubah menjadi medan tempur yang mempertaruhkan harga diri bangsa.

Pertempuran itu menelan lebih dari 6.000 korban jiwa dalam waktu kurang dari tiga minggu. Namun semangatnya menjadi fondasi penetapan Hari Pahlawan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959.

Jiwa Kepahlawanan: Dari Meriam ke Mikrofon

Meski berbeda zaman dan medan perjuangan, Marsinah dan para pejuang Surabaya memiliki benang merah yang kuat:

- Keberanian melawan kekuasaan yang menindas: Marsinah melawan represi Orde Baru, pejuang Surabaya melawan kolonialisme.

- Pengorbanan tanpa pamrih: Keduanya gugur demi kepentingan rakyat banyak, bukan demi jabatan atau kekuasaan.

- Kebangkitan kesadaran kolektif: Kematian Marsinah memicu gerakan buruh nasional, pertempuran Surabaya membangkitkan semangat kemerdekaan.


Marsinah adalah suara yang dibungkam, namun justru menggema lebih kuat. Seperti halnya teriakan “Merdeka atau Mati” di Surabaya, surat tuntutan Marsinah menjadi dokumen sejarah yang menggetarkan nurani bangsa.

Dikenang Masyarakat: Dari Jalanan ke Istana

Marsinah telah lama dikenang dalam aksi Kamisan, teater jalanan, dan gerakan buruh. Namun baru tahun ini, negara mengakui jasanya secara resmi. Ia menjadi pahlawan perempuan pertama dari kalangan buruh yang mendapat gelar nasional.

Sementara itu, Hari Pahlawan terus diperingati dengan upacara militer, ziarah, dan refleksi sejarah. Kini, dengan hadirnya Marsinah dalam daftar pahlawan, makna Hari Pahlawan menjadi lebih inklusif: bukan hanya tentang perang, tapi juga tentang suara yang berani melawan ketidakadilan.

Marsinah dan 10 November adalah dua nyala api yang berbeda, namun menyatu dalam satu obor: keberanian melawan penindasan demi martabat bangsa.


Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar