Ngaji Aki-Aki, Istiqomah & Berkembang Secara Natural | Green Menganti Semakin Religi
“Bagaimana kalau kumpul-kumpulnya diselingi ngaji?”
Karena faktanya, banyak yang tidak bisa mengaji, ada yang jarang membuka Al-Qur’an, dan yang sudah bisa pun masih banyak yang grotal-gratul.
Akhirnya ide itu diwujudkan. Jadlah Ngaji Santai dari pukul 20.00–21.00 WIB. Setelah ngaji, baru ngobrol dan cangkrukan seperti biasa — tapi dengan suasana yang lebih berkah.
Perjalanan Waktu: Usia Bertambah, Kesadaran Meningkat
Seiring berjalannya waktu, usia kian menua dan kesadaran beragama semakin tumbuh. Para bapak mulai memahami pentingnya menjalankan perintah Allah dengan lebih baik. Dari sinilah muncul gagasan baru:
> Ngaji Aki-aki dipindah menjadi Sabtu pagi ba’da Subuh,
supaya tradisi cangkrukan malam tidak sampai mengganggu bangun subuh dan sholat berjamaah.
Tempat ngaji tetap sama — sejak awal sampai sekarang — yaitu di rumah Pak Sutikno. Bedanya, kini semakin Istiqomah, Semakin Matang, Semakin Fleksibel. Bu Sutikno sebagai tuan rumah selalu menyiapkan sajian sarapan pagi, menambah kehangatan suasana kebersamaan.
Beberapa bulan terakhir, ada perkembangan baru. Bila Pak Sutikno berhalangan atau ada jamaah yang ingin ketempatan, maka kegiatan dipindah ke rumah warga yang bersedia. Pernah dilaksanakan di rumah:
Pak Agung, Pak Ahmad, Pak Taufik, Pak Su’udin, Pak Mahruz Efendi Dan hari ini di rumah Pak Deddy / Bunda Mika RT 19
Tekadnya jelas:
“Jangan sampai ngaji ini libur.”
Karena inilah media silaturahmi yang paling efektif, murah, ringan, namun manfaatnya luar biasa.
Untuk menjaga keberlangsungan, muncul wacana bahwa jika tuan rumah berhalangan dan tidak ada jamaah yang siap, maka ngaji tetap berjalan dengan menggunakan Balai RW 08 sebagai tempat cadangan.
Ngaji Aki-Aki: Dakwah yang Tumbuh Natural
Perjalanan dari sekadar ide sederhana emak-emak, kini berkembang menjadi Ngaji Aki-Aki Lentera Hati yang istiqomah, diminati, dan berjalan alami tanpa paksaan.
Inilah yang membuat Pak Untung, selaku Kepala Pondok Aki-Aki, merasa bangga dan bersyukur.
> “Kalau dakwah ini bisa berjalan, berkembang, dan maju secara natural, itu tanda bahwa Allah meridai langkah-langkah kecil kita.”
Tim Media Majelis Rakyat Kecil
