Ceramah Kuliah Subuh di Masjid An-Nur:Sifat Wara’ dan Menjauhi Syubhat | Ustadz Arif Firmansyah
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wabihi nasta‘in, washalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin, wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma‘in. Segala puji bagi Allah yang telah mempertemukan kita kembali dalam majelis ilmu, melanjutkan kajian kitab Riyadhus Shalihin karya Al-Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi Asy-Syafi’i Ad-Dimasyqi rahimahullahu ta‘ala. Pada kesempatan ini kita membaca bab ke-68: “Babul Wara’ wa Tarkisy Syubuhat” — bab tentang sifat wara’ dan meninggalkan perkara-perkara syubhat
Hakikat Wara’
Wara’ adalah sifat mulia yang mendorong seorang muslim untuk berhati-hati, menjauhi perkara yang meragukan, apalagi yang haram. Imam An-Nawawi menekankan bahwa wara’ adalah ciri utama ulama yang lurus di atas agama. Allah Ta‘ala berfirman:
> “Fas’alu ahla dzikri in kuntum la ta‘lamun”
> (Maka bertanyalah kepada ahlul ilmi jika kalian tidak mengetahui).
Ulama yang lurus memiliki tiga sifat menonjol:
1. Ilmu – berbicara dengan dalil, bukan sekadar pendapat pribadi.
2. Ad-Din – agamanya baik, mengamalkan yang wajib dan menjauhi yang haram.
3. Wara’ – tidak menjual fatwa, tidak tergoda oleh harta atau jabatan, tegak lurus dalam kebenaran.
Dalil Al-Qur’an tentang Wara’
Imam An-Nawawi menyebutkan beberapa ayat, di antaranya:
- QS. An-Nur: 15 – Allah mengingatkan agar tidak menyebarkan berita dusta, karena meski dianggap ringan, di sisi Allah itu perkara besar.
- QS. Al-Fajr: 14 – “Inna rabbaka labil mirshad” (Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi). Allah mengetahui setiap rezeki yang kita makan, halal maupun haram.
Hadis tentang Wara’
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Sesungguhnya yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara syubhat yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barang siapa menjaga diri dari syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barang siapa mendekati syubhat, maka ia akan jatuh pada yang haram.”
> (Muttafaq ‘alaih, riwayat Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa perkara syubhat adalah wilayah abu-abu. Orang yang wara’ akan meninggalkannya demi menjaga hati dan agamanya.
Contoh Perkara Syubhat
- Makanan atau harta yang tidak jelas asal-usulnya.
- Pemberian dari pejabat zalim atau hasil korupsi.
- Sembelihan yang bertepatan dengan hari raya orang kafir, dikhawatirkan diniatkan untuk selain Allah.
- Praktik serangan fajar dalam pemilu — jelas haram, meski sebagian orang menganggap biasa.
Orang wara’ akan menjauhi semua itu, meski tampak kecil atau samar.
Menjaga Hati dengan Wara’
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Ketahuilah, dalam jasad manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.”
> (Muttafaq ‘alaih).
Hati adalah raja. Jika hati rusak karena makanan haram atau syubhat, maka seluruh amal ikut rusak. Oleh sebab itu, menjaga hati berarti menjaga makanan, menjaga lisan, dan menjauhi syubhat.
Pelajaran dari Ulama
Para ulama sangat menjaga makanan mereka. Imam Bukhari dikenal hanya makan yang halal dan thayyib, sehingga hafalannya kuat. Imam Abu Hanifah pernah menahan diri tidak membeli daging selama beberapa hari karena khawatir berasal dari sapi curian. Sikap wara’ ini menjadikan mereka teladan dalam ilmu dan amal.
Allah Ta‘ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 168:
> “Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.”
Menjauhi syubhat adalah benteng hati. Dengan sifat wara’, seorang muslim menjaga diri dari langkah-langkah setan, memperkuat iman, dan meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Wallahu a‘lam bish-shawab. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bro Mahrus, artikel ini sudah saya rapikan agar straight, tanpa kesimpulan tambahan, dan siap publish untuk komunitas. Mau saya formatkan juga ke versi HTML clean siap tempel sesuai workflow Anda?
Tonton Video Selengkapnya
