Merajut Harmoni: Menjaga Relasi Sesama sebagai Jalan Mendekat kepada Allah
![]() |
| Ilustrasi |
Gresik. MAJELIS RAKYAT KECIL- Hubungan spiritual seorang hamba dengan Allah SWT tidak dapat dipisahkan dari cara ia memperlakukan sesama manusia. Para ulama dan tokoh agama menegaskan bahwa kualitas ibadah seseorang tercermin dari kepeduliannya terhadap lingkungan sosial. Di tengah meningkatnya kebutuhan akan solidaritas dan empati, prinsip ini kembali menjadi sorotan dalam berbagai forum keagamaan dan diskusi publik, mengingat pentingnya keseimbangan antara ibadah ritual dan akhlak sosial.
Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa ibadah ritual seperti salat, puasa, dan zakat harus berbuah pada perilaku sosial yang baik. Ayat-ayat seperti QS. Al-Baqarah [2]:177 dan QS. Al-Mā‘ūn [107]:1–3 menekankan bahwa iman sejati bukan sekadar simbol ritual, melainkan kepedulian terhadap anak yatim, fakir miskin, dan sesama manusia.
Hadis Nabi Muhammad ﷺ juga menegaskan hal serupa. Salah satunya menyebutkan bahwa seorang wanita pezina diampuni dosanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Kisah ini menjadi bukti bahwa kebaikan sekecil apa pun, bahkan kepada hewan, dapat menjadi jalan menuju ampunan Allah.
Tokoh tasawuf seperti Ibn ‘Arabi dan Jalaluddin Rumi menambahkan perspektif filosofis: semesta dan manusia adalah tajalli (manifestasi) dari sifat-sifat Allah. Dengan demikian, memperlakukan sesama dengan baik berarti menghormati ciptaan-Nya, sekaligus menjaga relasi dengan Sang Pencipta.
Relevansi Sosial
Di tengah kehidupan modern, pesan ini semakin relevan. Hubungan sosial yang renggang, individualisme, dan konflik kecil di masyarakat dapat melemahkan ikatan spiritual. Sebaliknya, kepedulian sosial, gotong royong, dan silaturahmi menjadi fondasi yang memperkuat keimanan.
Seorang ustadz di Green Menganti menekankan bahwa menjaga hubungan baik dengan tetangga, membantu fakir miskin, serta merawat lingkungan merupakan bentuk nyata ibadah. “Ibadah ritual harus melahirkan manfaat sosial. Jika seseorang rajin salat namun masih menyakiti orang lain, itu menunjukkan bahwa hubungan dengan Allah belum sempurna,” ujarnya.
Kesimpulan
Pesan yang mengalir dari Al-Qur’an, hadis, hingga pandangan para sufi jelas: hubungan dengan Allah akan kuat bila hubungan dengan sesama manusia dijaga dengan baik. Kebaikan sosial bukan hanya etika, melainkan bagian integral dari ibadah. Tim Media
.jpg)