Menuju Surga Ramai-Ramai: Resep "Hablum Minannas" Anti-Mules ala Ustadz Naruto
MAJELIS RAKYAT KECIL - Bulan Ramadan baru saja usai, dan kita memasuki momen Syawal yang identik dengan halalbihalal. Kalau selama Ramadan kita habis-habisan fokus beribadah kepada Allah (hablum minallah), maka di bulan Syawal ini saatnya kita memperbaiki hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas).
Dalam sebuah pengajian interaktif yang penuh tawa namun sarat makna, Ustadz Naruto (Ustadz Marzuki Imron) membedah rahasia penting mengapa menjaga hubungan baik dengan tetangga dan keluarga itu jauh lebih menantang daripada yang kita kira.
Yuk, kita simak rangkuman intisarinya yang sangat relate dengan kehidupan sehari-hari!
Fakta Mengejutkan: Al-Qur'an Lebih Banyak Membahas Urusan Sosial
Banyak yang mengira bahwa Islam hanya melulu soal salat, puasa, dan zikir. Namun, Ustadz Naruto mengungkapkan sebuah fakta menarik:
> "Di dalam Al-Qur'an, ayat yang membahas hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah) itu tidak sampai 30%. Sisanya, sekitar 70% isinya justru mengatur hubungan antarsesama manusia (hablum minannas)."
Artinya apa? Masalah terbesar umat manusia itu rata-rata bukan saat berhadapan dengan Tuhan, melainkan saat berhadapan dengan manusia lain. Beliau mencontohkan, ayat terpanjang dalam Al-Qur'an (Surah Al-Baqarah ayat 282) sama sekali tidak membahas tata cara salat malam, melainkan membahas urusan **utang piutang**. Sebuah bukti bahwa urusan sosial—terutama duit—memang sering kali bikin ruwet dunia!
Dua Kunci Sukses Hubungan Sosial Berdasarkan Surah Ali 'Imran 134
Merujuk pada Al-Qur'an Surah Ali 'Imran ayat 134, Ustadz Naruto membagikan dua resep utama agar hidup bermasyarakat, bertetangga, dan berorganisasi bisa berjalan adem ayem:
1. Menahan Amarah (Ojo Gampang Tersinggungan)
Ciri orang bertakwa yang pertama adalah mampu menahan amarah (wal-kaadhiminal-ghaidh). Di zaman sekarang, ini mirip dengan istilah "jangan gampang baperan."
Contoh sepele: Nama tidak disebut oleh MC acara RT langsung tersinggung, atau tidak diundang syukuran secara fisik (cuma lewat WhatsApp) langsung merasa dikucilkan.
Solusi Sakit Hati: Jika Anda difitnah atau disakiti oleh orang lain, Ustadz Naruto menyarankan untuk mengubah energi sakit hati menjadi energi doa. Karena doa orang yang terzalimi itu makbul, manfaatkan momen itu untuk meminta rezeki, kesehatan keluarga, atau agar bisa berangkat haji/umrah.
2. Mudah Memaafkan (Filosofi "Kentut")
Syarat kedua adalah mudah memaafkan orang lain (wal-'aafina 'aninnas). Menariknya, beliau menyamakan sifat memaafkan ini dengan filosofi mengeluarkan angin alias kentut.
* Semakin cepat dilepaskan, batin akan terasa semakin lega.
* Sebaliknya, semakin lama dendam itu ditahan dan dipendam, maka hati kita akan terasa semakin "mules" dan menyiksa diri sendiri.
* Begitu dimaafkan, langsung lupakan. Jangan diingat-ingat lagi!
Jangan Mengotak-ngotakkan Surga!
Ustadz Naruto juga memberikan sentilan keras bagi masyarakat yang suka berdebat karena perbedaan golongan (seperti NU, Muhammadiyah, dll.) atau perbedaan hari penentuan lebaran.
Al-Qur'an menggunakan kata alladina (artinya: orang banyak/jamak) saat menceritakan penghuni surga. Ini berarti surga itu sangat luas dan kita bakal masuk ke sana ramai-ramai, Jadi, tidak perlu merasa golongan sendiri yang paling benar dan mengaveling surga untuk diri sendiri. Perbedaan itu sudah ada sejak zaman sahabat Nabi (seperti kisah Ibnu Abbas), jadi yang paling penting adalah tetap rukun dan akur.
Praktik di Rumah Tangga: Resep untuk Suami & Istri
Prinsip Surah Ali 'Imran 134 ini ternyata sangat fleksibel jika dibawa ke ranah domestik:
Untuk Kaum Ibu (Istri: Tugas utamanya adalah menahan amarah. Wanita memang ditakdirkan cerewet, tapi jangan overdosis. Kurangi kebiasaan membentak suami gara-gara urusan sepele seperti handuk basah yang ditaruh di atas kasur.
Untuk Kaum Bapak (Suami): Tugas utamanya adalah mudah memaafkan dan memberi rida. Sepusing apa pun menghadapi kecerewetan istri, suami harus lapang dada memaafkan, karena rida suami adalah kunci utama seorang istri untuk melangkah ke surga.
Kesimpulan:
Halalbihalal bukan sekadar ritual bersalam-salaman tanpa makna. Menjaga lisan, menurunkan ego, tidak pamer (flexing) saat reuni, serta melapangkan dada untuk meminta dan memberi maaf adalah wujud nyata dari kembalinya kita kepada fitrah yang suci.
Apakah Anda ingin fokus mengembangkan bagian tertentu dari artikel ini, misalnya memperdalam analogi jenaka dari Ustadz Naruto atau menambahkan tips praktis penerapannya dalam kehidupan bertetangga?
Tonton Videonya
