BREAKING NEWS

Mencari Ketenangan di Tengah Modernitas, Puluhan Ribu Warga Korea Selatan Disebut Memeluk Islam

SEOUL, MAJELIS RAKYAT KECIL— Di tengah kehidupan modern Korea Selatan yang ditandai persaingan sosial dan tingginya ekspektasi masyarakat, sebagian warga setempat mulai menemukan ketertarikan terhadap Islam. Bagi mereka, agama ini menawarkan nilai spiritual, kesederhanaan dalam menjalani kehidupan, serta pandangan tentang keluarga dan hubungan antarmanusia.

Diperkirakan sekitar 45 ribu warga asli Korea Selatan telah memeluk Islam. Sebagian di antaranya berasal dari kalangan generasi muda yang tengah mencari pemahaman spiritual dan makna kehidupan di luar kebiasaan budaya yang mereka kenal sejak kecil.

Fenomena tersebut menjadi gambaran perubahan cara sebagian masyarakat Korea Selatan memandang agama dan kehidupan sosial. Bagi sejumlah mualaf, keputusan memeluk Islam tidak semata-mata berkaitan dengan keyakinan, tetapi juga perjalanan pribadi dalam memahami identitas, keluarga, dan tujuan hidup.

Laporan The Korea Times berjudul “Why Some Koreans Look Beyond Their Culture to Islam” yang disebut terbit pada 13 Oktober 2026 mengangkat pengalaman sejumlah warga Korea Selatan yang memilih mengenal dan memeluk Islam.

Salah satunya adalah Yusuf, warga asli Korea berusia 30-an tahun yang memutuskan masuk Islam pada 2014. Ia menilai, sebagian pria Korea tertarik memeluk Islam karena memandang konsep pernikahan dalam agama tersebut menawarkan aturan yang lebih jelas dan kehidupan keluarga yang relatif sederhana.

“Sebagian besar pria melakukannya untuk mencari istri,” ujar Yusuf sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut.

Menurutnya, sebagian pria Korea merasa tidak nyaman dengan budaya kencan yang kompetitif, terutama di kota-kota besar seperti Seoul. Dalam kondisi tersebut, konsep pernikahan dalam Islam dipandang sebagai alternatif yang memberikan pedoman lebih jelas mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Meski demikian, ketertarikan terhadap Islam tidak hanya berkaitan dengan persoalan pernikahan. Bagi sebagian warga Korea Selatan lainnya, pencarian terhadap ajaran ketuhanan, nilai keluarga, dan ketenangan spiritual juga menjadi alasan penting untuk mempelajari agama tersebut.

Masjid Pusat Seoul Menjadi Tempat Belajar Islam

Ketertarikan warga Korea Selatan terhadap Islam juga terlihat melalui kegiatan pengenalan agama di Masjid Pusat Seoul, yang terletak di kawasan Itaewon.

Setiap bulan, sekitar lima hingga 25 warga Korea mengikuti kursus dasar-dasar Islam. Setelah menyelesaikan pembelajaran, para peserta berkesempatan mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai pernyataan memeluk Islam.

Sebagian besar peserta kursus tersebut dilaporkan merupakan laki-laki. Namun, perempuan Korea juga mengikuti proses pengenalan Islam dengan latar belakang dan pertimbangan masing-masing.

Salah satunya adalah Areum, seorang perempuan Korea Selatan yang tertarik pada konsep keesaan Tuhan dan nilai-nilai keluarga dalam Islam.

“Premis dasar Islam tentang satu Tuhan sangat menarik bagi saya. Selain itu, penghormatan Islam terhadap orang tua juga sesuai dengan budaya Korea yang saya kenal sejak kecil,” kata Areum, sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut.

Menurut Areum, penghormatan terhadap orang tua dalam Islam memiliki kesamaan dengan nilai kekeluargaan yang telah dikenalnya dalam budaya Korea. Kesamaan tersebut turut membantunya menjelaskan keputusan memeluk Islam kepada keluarganya.

Pengalaman itu memperlihatkan bahwa proses seseorang mengenal agama baru dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari keyakinan pribadi hingga nilai-nilai yang dirasakan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Berawal dari Pertemanan dan Pencarian Makna Hidup

Bagi Yusuf, perjalanan mengenal Islam bermula ketika ia bertemu dengan teman-teman Muslim melalui komunitas bahasa Inggris.

Pertemuan tersebut membuka kesempatan baginya untuk mengenal perspektif kehidupan yang berbeda. Ia memandang pembelajaran bahasa asing dan agama baru sebagai cara memperluas wawasan di luar lingkungan budaya yang selama ini dikenalnya.

Dalam proses tersebut, Islam menjadi salah satu jalan yang dipilihnya untuk memahami kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.

Pengalaman Yusuf dan Areum menunjukkan bahwa perjalanan menjadi mualaf tidak selalu berawal dari latar belakang yang sama. Ada yang tertarik melalui pertemanan, ada pula yang memulai pencarian melalui pertanyaan tentang ketuhanan, hubungan keluarga, dan makna kehidupan.

Bagi mereka, keputusan memeluk Islam merupakan proses personal yang melibatkan pembelajaran dan pertimbangan terhadap keyakinan yang ingin dijalani.

Menemukan Kebersamaan di Lingkungan Muslim

Di tengah kekhawatiran sebagian masyarakat mengenai kemungkinan keterasingan sosial setelah memeluk Islam, sejumlah mualaf Korea justru mengaku menemukan dukungan melalui komunitas Muslim.

Lingkungan tersebut memberikan kesempatan bagi mereka untuk belajar, berinteraksi, dan membangun hubungan dengan orang-orang yang memiliki keyakinan serupa.

Yusuf menegaskan bahwa setiap orang dapat memulai proses mengenal Islam dengan latar belakang dan motivasi yang berbeda.

“Semua orang dipersilakan untuk mempelajari Islam, apa pun motivasi awal mereka,” ujarnya.

Bagi Areum, pengalaman mengunjungi Masjid Pusat Seoul juga meninggalkan kesan mendalam. Ia merasakan suasana kebersamaan yang membuatnya merasa menemukan tempat yang selama ini dicari.

“Meskipun saya telah tinggal di Korea sepanjang hidup saya, ketika pertama kali datang ke Masjid Seoul, akhirnya terasa seperti saya pulang ke rumah,” kata Areum.

Pengalaman tersebut menggambarkan bagaimana lingkungan keagamaan dapat memberikan rasa diterima dan kebersamaan bagi seseorang yang sedang menjalani perjalanan spiritual.

Pencarian Spiritual di Tengah Perubahan Sosial

Fenomena warga Korea Selatan yang memeluk Islam memperlihatkan beragam alasan di balik keputusan seseorang untuk memilih keyakinan baru. Faktor pertemanan, pencarian spiritual, pandangan mengenai keluarga, serta ketertarikan terhadap konsep ketuhanan menjadi bagian dari pengalaman sejumlah mualaf.

Namun, pengalaman Yusuf dan Areum tidak serta-merta mewakili seluruh warga Korea Selatan yang memeluk Islam. Setiap individu memiliki perjalanan, pertimbangan, dan pengalaman yang berbeda dalam menentukan keyakinannya.

Di tengah perkembangan masyarakat Korea Selatan yang semakin modern, kisah para mualaf tersebut menunjukkan bahwa pencarian makna hidup dan spiritualitas tetap menjadi bagian dari perjalanan manusia.

Bagi Yusuf, Areum, dan sejumlah warga Korea lainnya, mengenal Islam bukan sekadar mempelajari agama yang berbeda dari lingkungan asal mereka, melainkan juga upaya memahami keyakinan, membangun hubungan sosial, dan menemukan makna kehidupan yang ingin mereka jalani.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar
Maxpresso HWI kopi herbal stamina pria Gresik
```