BREAKING NEWS

Merajut Bekal Akhirat di Usia Senja: Catatan Hangat dari Pengajian Al-Qur'an Green Menganti Gresik

Tidak ada kata terlambat untuk belajar Al-Qur'an. Semoga setiap huruf yang dibaca, setiap langkah menuju majelis ilmu, menjadi bekal terbaik menuju husnul khatimah. 🤲✨

Green Menganti. MAJELIS RAKYAT KECIL - Suasana hangat dan penuh berkah begitu terasa di kediaman Bapak Eko yang beralamat di Blok B6 No. 27, Perum Green Menganti, Gresik. Di rumah ini,  jamaah  "Pondok Aki-Aki"  berkumpul dengan satu tekad yang luar biasa: menepis keterbatasan usia demi belajar membaca Al-Qur'an sekaligus Tajwid.

Di sela-sela dan akhir kegiatan mengaji yang khusyuk tersebut, sebuah untaian nasihat dari ustadz Nurrohman hadir sebagai penyejuk hati. Nasihat ini menjadi pengingat yang sangat menyentuh tentang betapa luasnya kasih sayang Allah di tengah sisa usia kita di dunia.

Saat Kasih Sayang Allah Tak Berjalan Searah dengan Keinginan Kita

Sebagai manusia, kita sering kali mengukur kasih sayang Allah dari terwujudnya keinginan-keinginan duniawi. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta'ala memiliki sifat Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang) yang jauh lebih luas dari ruang lingkup logika kita.

Sering kali kita mengeluh, "Kok hidup saya begini? Kok takdir saya seperti ini?" Padahal, di balik takdir yang terasa berat dan bertentangan dengan kemauan kita, Allah sedang memberikan yang terbaik untuk menyelamatkan akhirat kita. Sayangnya, kita sebagai hamba sering kali egois dan enggan menerima bentuk kasih sayang-Nya yang dikemas dalam wujud ujian.

Salah satu bukti kasih sayang Allah yang paling dekat adalah melalui khutbah Jumat. Setiap minggu, khatib selalu berseru, "Ittaqullah, ittaqullah"—bertakwalah kepada Allah. Kalimat ini bukan sekadar rutinitas formalitas. Itu adalah alarm mingguan yang Allah kirimkan agar iman dan takwa kita tidak melorot. Namun ironisnya, saking seringnya mendengar kalimat itu, kita kadang menganggapnya biasa saja, layaknya angin lalu. Kita lupa bahwa takwa dan iman adalah aset paling berharga yang melampaui segala harta materi yang kita kejar selama ini.

 "Fasilitas" Penggugur Dosa yang Melimpah

Allah sangat memahami bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Sejak awal mula, Iblis memang sudah meminta izin kepada Allah untuk menggoda anak cucu Adam, dan izin itu diberikan. Namun, Allah tidak melepas kita begitu saja. Melalui ajaran Baginda Nabi Muhammad SAW, Allah menyediakan berbagai "fasilitas" luar biasa untuk membersihkan dosa-dosa kita secara berkala.

Rasulullah SAW bersabda tentang ibadah-ibadah yang menjadi *mukaffarat* (penghapus dosa) di antara waktunya:

 Shalat Lima Waktu: Menghapus dosa di antara jarak shalat yang satu ke shalat berikutnya (Subuh ke Dzuhur, Dzuhur ke Ashar, hingga Isya).

 Shalat Jumat ke Jumat Berikutnya: Menghapus dosa yang kita lakukan dalam skala mingguan.

 Ramadan ke Ramadan Berikutnya: Menghapus dosa-dosa dalam skala tahunan.

Bayangkan, betapa sayangnya Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW. Kita terus-menerus digoda setan dan berbuat dosa, tetapi Allah juga terus-menerus membuka gerbang ampunan secara gratis melalui ibadah rutin kita. Jika kita masuk surga kelak, itu bukan semata-mata karena hitungan nominal amal kita yang mungkin masih bolong-bolong, melainkan karena besarnya rahmat dan ampunan Allah yang membungkus amal tersebut.

Menanti Akhir yang Baik (Husnul Khatimah)

Pada akhirnya, ceramah di pengajian Green Menganti ini bermuara pada satu kepastian: Kullu nafsin dza'ikatul maut—setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Usia kita akan terus berjalan, hari berganti hari, dan raga kita pasti akan menua.

Mumpung sisa umur masih melekat di kandung badan, jadikanlah dunia ini semata-mata sebagai alat dan tempat untuk mengumpulkan bekal. Jangan sampai kita terlena dengan santainya dunia hingga melupakan pesan penting yang selalu digaungkan setiap Jumat: "Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam (berserah diri)."

Berkumpulnya para jamaah sepuh di rumah Bapak Eko untuk belajar mengeja ayat-ayat Al-Qur'an dan menelaah maknanya adalah bukti nyata dari ikhtiar menjemput bekal tersebut. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Di usia senja inilah, setiap huruf Al-Qur'an yang dibaca dengan terbata-bata justru menjadi ketukan pintu rahmat Allah yang paling indah. Semoga langkah kaki para aki-aki yang rutin mengaji ini dicatat sebagai umat pilihan yang layak mendapatkan syafaat Nabi Muhammad SAW di yaumul kiamah nanti. Amin Ya Rabbal Alamin.

Santri Pondok Aki Aki


Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar